Kamis, 19 Mei 2016

Untuk Mu, Ku Mohon Menghilang lah Dari Hidupku

Untuk Mu, Ku Mohon Menghilang lah Dari Hidupku
                Sejak pertama kali kita bertemu 11 tahun yang lalu. Aku lupa tepatnya tanggal berapa, aku tidak pernah memperhatikanmu, tidak  pernah terfikir untuk  berkenalan  secara  dekat denganmu. Aku hanya tahu bahwa kau menjadi laki – laki yang dcintai oleh temanku, dia sangat ingin memilikimu. Namun semua itu berubah ketika temanku berulang tahun Mei tahun 2006. Kita berubah, seorang temanmu bilang kalau kau menyukaiku, sedangkan aku sungguh tidak pernah terfikir untuk menyukaimu kembali. Percakapan kita saat itu ternyata membuat perasaanmu berubah kepadaku, sedangkan aku masih memikirkan perasaan temanku. Namun lambat laun usahamu yang selalu bersama dengan teman – temanku untuk dekat denganku meluluhkan hatiku. Untuk pertama kalinya aku “mengiyakan” ajakanmu untuk berpacaran. Dan untuk pertama kalinya aku menyakiti seorang teman yang saat itu usia kita masih sama – sama 12 tahun. Bagaimana bisa seorang gadis cilik merebut laki – laki yang disukai terlebih dahulu oleh temannya?
                Saat itu kita begitu egois, berjalan bersama – sama, pulang sekolah bersama – sama, menghabiskan istirahat selama 20 menit juga bersama, tanpa menghiraukan orang – orang yang kita sakiti. Banyak teman – teman yang mendukung keputusan kita saat itu namun ada juga beberapa orang yang menyayangkan sikap kita, aku masih ingat betul saat kita mencurahkan perasaan kita, menceritakan segala hal yang kita lalui di sebuah buku tulis, buku tulis berwarna pink yang sengaja aku sisihkan untuk kita berdua. Ada satu kalimat yang kau tulis yang tidak pernah aku lupa “nta, kenapa yah kok sikap Mia berubah semenjak kita berpacaran?”, saat itu aku menanggapinya dengan sangat santai, tidak pernah menghiraukan perasaan orang – orang yang tersakiti karena kau menjadi milikku. Bahkan beberapa bulan kemudian, aku semakin tahu bahwa  bukan hanya temanku yang suka pada dirimu, masih banyak gadis – gadis kecil yang seusia kita saat itu yang suka sekali denganmu. Aku sungguh bahagia, beberapa bulan berpacaran denganmu aku selalu bahagia namun juga selalu kau sakiti. Kamu bukan pacar pertamaku, bahkan kamu bukan laki – laki yang pertama aku sukai. Namun ternyata sikap manis baikmu, senyuman yang sering mengembang di bibirmu sudah tidak seindah saat awal – awal kita kenal. Bahkan ada salah seorang temanmu yang mengatakan bahwa aku hanya dijadikan bahan taruhan olehmu. Tahukah kamu rasanya aku seperti dilempar bola basket dan tepat mengenai mukaku saat kudengar kalimat itu. Aku masih ingat sekali tentang kita berpacaran saat itu, ternyata hanya tiga hari dalam seminggu aku merasa sangat senang, namun hari – hari selebihnya aku hanya merasa sebagai mainanmu. Bahkan kau tidak pernah memberikan penjelasan dan meminta maaf kepadaku, apakah aku betul dijadikan bahan taruhan atau tidak?.
                Aku pernah memberanikan diri untuk bertanya padamu, tapi tidak pernah ada jawaban yang terlempar dari bibir tipismu. Hanya senyuman sinis dan mata yang melotot kearahku. Entah kau ingat atau tidak  bahkan kau pernah mencakar tanganku sampai kulit ditelapak tanganku terkelupas oleh ulahmu itu. Satu bulan berlalu setelah kita putus, aku hanya bersama dnegan teman – temanku saja, namun aku masih mengharapkanmu, beberapa kali aku merindukanmu dan hanya melihat kau dari kejauhan saja. Teman – temanku yang awalnya sangat mendukung kita berubah 180 derajat membencimu, mereka tidak suka jika aku membahas tentangmu lagi. Aku hanya bisa tertunduk lemas mengetahui bahwa teman – temanku selalu marah ketika aku menyinggung tentangmu, mereka sungguh membencimu.  Tapi mungkin dewi fortuna masih bersamaku saat itu, untuk kedua kalinya kau mendekatiku lagi, aku masih ingat ketika duduk didepan kelasku sedangkan kelas kita berdampingan, aku menyedot es dan sedang memakan sebuah coklat bersama seorang temanku, kau menghampiriku dan menarik kerudung putihku saat itu aku langsung berteriak marah namun ketika mendapati kau yang menarik kerudungku dan memberikan senyuman manismu aku hanya bisa diam dak berkutik, bahkan jantungku berdekup kencang, apakah kau tahu? Aku selalu merasakan seperti itu ketika bertemu denganmu. “nanti pulang sekolah, tunggu dikelas yah!”, itu perintah yang kau berikan padaku saat itu, aku hanya menganggukkan kepalaku, bibirku kelu tidak bisa berkata apapun.
                Saat pulang sekolah tiba, aku menunggumu didepan kelas, kau keluar dari kelasmu dan langsung menghampiriku, menarik tanganku dan berucap “ hayu nta, kita balikan lagi”  aku masih berdiri, diam, dan tak berani melihat wajahmu. Aku ingat betul kalimat yang aku lontarkan adalah “nanti dulu, aku harus tanya teman – temanku” dan jawabanmu adalah “kenapa harus tanya mereka? Kan yang pacaran kita berdua, apa hubungannya sama mereka?”. Aku tak kuasa, jantungku sungguh berdekup kencang seperti pertama kali kau mengajakku pacaran, aku mengiyakan ajakanmu. Bahkan setelah 10 tahun kejadian itu berlalu aku masih mengingatnya dengan rapi. Aku benar – benar senang karena kau bisa bersamaku lagi, umur kita 13 tahun saat itu, entah apa yang ada difikiran aku atau kau sehingga kita bisa bersama lagi. Aku masih mengingat bahkan kita tidak pernah melakukan hal – hal yang tidak sewajarnya, aku ingat bahwa kita selalu pulang bersama, belajar bersama dan selalu bertengkar. Saat itu juga aku benar – benar lelah karena sifatmu yang tempramental, aku menyerah saat itu juga apa lagi saat aku difitnah oleh sepupumu dengan cara yang sangat menjijikan anak usia 13 tahun memfitnah teman seangkatannya hanya karena tidak senang saudaranya berpacaran. Kau hanya diam saja, ketika aku menangis ketakutan karena fitnah saudaramu itu kau hanya duduk terdiam tidak melakukan apapun sedangkan teman – temanku membela aku. Jelas sekali wajahmu yang tidak melakukan apapun, wajah manismu yang hanya menatapku dan tidak membantuku mengusap air mataku, apakah kamu tahu? Saat itu aku benar – benar ketakutan dan yang aku butuhkan hanya kau. Aku menyerah dengan segala persaanku, aku mencintaimu namun kau tidak seperti itu. Aku benar – benar mundur menjauh darimu, bukan selangkah – dua langkah, aku benar – benar berlari menjauh darimu dan tidak ingin mengingat semua tentang kita lagi. Aku fikir perasaanku  ini akan berubah, aku membuang semua kenangan yang kita ukir. Aku membakar buku diary kita, membuang foto – foto denganmu, metobek surat – surat yang pernah kau tulis.
Satu kejadian ya ng tidak pernah bisa aku lupakan sampai sekarang adalah ketika kau secara diam – diam mengambil tasku dari dalam kelas dan membawa pulang kerumahmu, sungguh aku sangat marah saat itu aku mengejarmu dengan jarak hampir 500m, berlari terus mengejarmu dan ketika akan berhasil kau naik angkutan umum dan melambaikan tangan kepadaku dengan senyuman manis yang kau berikan padaku. Aku hanya bisa terdiam dan jengkel karena kelakuanmu. Tak disangka, malamnya kau ke rumahku menmberikan tas ku, aku kaget dan tidak percaya kau berani mengunjungi rumahku, sedangkan aku tidak pernah terfikirkan untuk mengajak kau kerumahku. Didalam tasku, aku menemukan sepucuk surat cinta yang kau tulis untukku, dan didalamnya ada fotomu memakai kerudung dan kacamataku. Tahukah kau? Aku merasa sangat senang saat itu. Namun, hanya beberapa hal yang menyenangkan selebihnya kau selalu menginjak – injak harga dirku.
Aku fikir dengan berjalannya wkatu aku pasti bisa melupakanmu, aku fikir dengan aku berpacaran lagi dengan laki – laki lain aku bisa membuangmu dari fikiranku. Aku berusaha secara keras untuk tidak berhubungan denganmu lagi, terlebih saat tau kau memiliki kekasih lagi. Aku mencoba untuk bahagia tanpamu, mencoba menjalani hidupku dengan normal lagi tanpamu. Terkadang rasa rindu menghujam ke jantungku dengan cepatnya, memaksa aku untuk melihatmu dari kejauhan, berusaha untuk tidak tersenyum padamu itu ternyata menyakitkan. Sedangkan waktu terus berjalan, disaat itu juga aku berusaha untuk melupakanmu. Sampai saatnya tiba kita kelas 9, kabar buruknya kita satu kelas. Aku berusaha untuk sebisa mungkin menjaga sikap didepanmu, sebisa mungkin untuk tidak memperhatikanmu dan tidak memperdulikanmu. Ternyata itu semakin sulit membuatku melupakanmu, aku lebih suka diberi soal matematika aljabar atau pun hitungan apapun dibandingkan harus melepaskan pandanganku padamu. Hubungan kita membaik, namun tetap saja tidak sebaik awal kita berbicara, aku mencoba untuk memperbaiki hubungan denganmu, aku mencoba untuk menyapamu, melupakan semua yang pernah aku alami bersamamu. Aku hanya ingin hidup normal denganmu, menganggapmu teman, berteman denganmu seperti aku berteman dengan laki – laki lainnya. Ternyata itu sulit aku lakukan, aku selalu memperhatikanmu dari tempat dudukku. Saat itu aku sungguh snagat lelah, sampai kau berpacaran dnegan teman sekelas kita. Aku sedih mendengarnya, aku membangun sendiri dinding – dinding harapan yang ternyata menjadi boomerang untukku, aku berusaha membersihkan luka – luka dihatiku ternyata kau hancurkan lagi. Aku hanya perempuan, yang sungguh hanya bisa berharap tanpa tidak tahu harus melakukan apapun. Aku sudah tidak ingin mencoba untuk berteman denganmu lagi. Setiap pulang sekolah, secepat mungkin aku pulang lebih dulu agar tidak melihatmu berjalan dengan perempuan lainnya. Namun, aku secara diam – diam selalu melihat dari balik jendela kamarku.
Beberapa kali aku melihat perempuanmu menangis, “ku tanya kenapa kamu menangis?” dia menjawab “ laki – laki itu sangat kasar, dia tidak mengerti bahwa aku menyayanginya nta. Jawabnya sembari menangis sesegukan. Dalam hati aku berkata “kau juga tidak mengerti, bahwa aku juga sangat mencintai laki – lakimu itu”. Perempuan itu pernah bertanya padaku “mengapa aku putus denganmu?” aku hanya menjawab,”karena kami memutuskan untuk  berteman”.  Sikapmu itu sangat melukai hatiku, tapi aku tidak ingin orang lain tahu bahwa kau selalu bersikap kasar padaku. Aku dicampakkan berkali – kali olehmu, beberapa kali kau sangat bersikap manis padaku sampai aku selalu luluh padamu, tapi kau juga beberapa kali membuangku dan tidak memperdulikanku. Pernah saat itu, kita akan ujian praktek olahraga, malam – malam temanku mengirimiku sms “nta, tadi bby sms aku, kamu tahu kalau dia punya hp?”, aku jawab “tidak, aku tidak tahu, dia tidak pernah sms atau menelvonku. Akhirnya temanku memberikan nomormu padaku. Paginya, aku misscall nomormu, saat aku selesai mandi aku membuka hp dan ada sms dari nomormu. Aku fikir isi smsnya “siapa ini?” ternyata isi smsmu adalah “ada apa nta?”. Ternyata kamu tahu nomorku, aku kaget membacanya dan beberapa saat kemudian kau mengirimku sms lagi “jangan lupa sarapan, hari ini kan ujian praktek lari”.
Sampai akhirnya kita sama – sama lulus dan berpisah dari SMP. Kita benar – benar lost contack. Aku benar – benar tidak tahu kau lanjut ke sekolah seperti apa, aku juga fikir kau tidak pernah tahu dan tidak ingin tahu aku lanjut ke sekolah mana. Yang aku ingat bahwa disaat perpisahan kelas 9 kau tidak datang ke sekolah, aku fikir kau tidak ingin datang karena tidak ingin bertemu denganku lagi bahkan untuk terakhir kalinya. Untuk pertama kalinya dengan jangka waktu yang lama, aku tidak bisa melihatmu. Untuk pertama kalinya juga, dengan waktu yang lama aku tidak melihat senyumanmu lagi, menjabat tanganmu atau memukul lenganmu. Satu tahun berlalu, sungguh bukan waktu yang lama. Akhirnya aku menemukanmu melalui sosial media. Saat pertama kali aku menggunakan sosial media itu, yang pertama aku cari adalah namamu. Aku langsung menambhakanmu menjadi teman. Tidak lama kemudian kau mengkonfirmasi permintaanku. Dari sosial media itulah kita kembali berbincang tapi kau tidak pernah meminta nomor handphoneku. Aku sedikit menyesal karena melihat wajahmu lagi walau hanya lewat foto saja. Sampai akhirnya kau mengirimku sms, aku ingat betul isi smsnya “sinta”, aku balas “iya, ini siapa?” “mantan kamu, aku bby”. Aku tersenyum membaca sms itu, senang bukan main. Sejak saat itu hubungan kita mulai intens lagi, beberap kali kau mengajakku bertemu, namun aku menolak karena belum siap, sampai akhirnya aku kembali bertemu dneganmu saat kau akan berangkat sekolah dan aku akan menyebrang jalan. Kau menyapaku dengan senyuman khasmu, aku pun membalas senyumanmu itu, kau berubah sekali tinggi badanmu bertambah secara pesat sampai aku harus mendongakkan kepalaku ketika berbicara denganmu. Bebrapa kali kita bertemu, kau selalu memberiku kalimat – kalimat yang menyenangkan, dan tidak pernah lupa untuk mengirimiku sms walaupan hanya sekedar bilang “semangat”, aku selalu meminta bantuanmu untuk mengerjakan soal- soal kimia, dan sampai akhirnya kamu berani datang kerumahku hanya sekedar untuk meminjam dvd drama korea, saat itu aku percaya bahwa kau memang suka dengan drama korea dan kita selalu menonton Piala Dunia secara bersamaan walaupun jagoan kita selalu berbeda, tak apa. Bagiku perbedaan itu lah yang membuat kita selalu bahagia. Aku tidak tahu hubungan seperti apa yang kita jalani saat itu, aku tidak tahu apakah kita jadian lagi atau tidak yang aku tahu hanya perasaanku padamu semakin membesar dan tidak ingin kehilanganmu. Hari – hariku berwarna lagi saat kau kembali dihidupku, sikapmu yang sedikit berubah lebih halus dan jarang marah membuatku semakin cinta. Sampai akhirnya setelah beberapa bulan aku merasakan kebahagiaan itu, aku ingat sekali saat ujian kenaikan kelas seorang teman sekelasku menghampiriku dia berkata “nta, aku minta maaf yah, aku benar –benar minta maaf”. Wajah cantiknya menjadi sendu sekali, hidung mancungnya kembang kempis menahan takut, aku memperhatikannya dan berkata “ada apa?” “dia menjawab dengan cepat seraya memegangi kedua tanganku, “aku minta maaf, karena aku balikan lagi dengan bby”. Jantungku sakit mendengarnya, rasanya ada tombak yang menghujam dan menancap jantungku ini, aku berusaha tegar dan menjawabnya dengan senyuman. Tiga kali kau mematahkan hatiku, aku berusaha bersikap biasa saat kau mengirimiku sms. Sampai akhirnya emosiku tidak bisa terbendung lagi, aku melontarkan semua yang aku rasakan, perasaan labil yang aku miliki dengan semua kalimat yang aku pendam dihati kuucapkan semuanya padamu. Jawabanmu sangat kasar sekali, sampai akhirnya aku tak kuasa membaca pesan darimu lagi. Ada satu pesan yang belum pernah aku baca karena langsung aku hapus aku hanya takut isi pesannya itu sangat menyakiti hatiku.
Saat itu juga kita berpisah kembali, aku kembali menata hatiku yang dihancurkan oleh orang yang sama kesekian kalinya. Beberapa kali aku mendengarkan curhatan pacarmu, beberapa kali juga aku memberikan nasihat – nasihat untuk hubungan kalian. Aku hanya ingin kau bahagia sekalipun dengan perempuan lain, aku hanya berfikir jika kau bahagia aku memang akan sakit, tapi aku akan lebih sakit ketika kau tidak bahagia. Aku menghapus nomormu dari kontak hpku, memblokir pertemanan kita dari sosial media, menghapus segala yang berkaitan denganmu. Aku terlalu mengharapkanmu sampai – sampai aku membangun mimpi-mimpi yang menyakitkan untuk diriku sendiri. Saat itu aku merasa lelah, benar – benar lelah. Aku menangis sejadi – jadinya dikamarku. Aku tidak bisa menceritakan ini smeua kepada siapapun, aku hanya memendamnya sendiri.
Hubunganmu dengan perempuan itu kembali berakhir, aku berhenti memblokir mu namun aku belum berani untuk menambahkanmu lagi menjadi temanku, berbulan – bulan aku hanya memperhatikanmu dari sosial media itu, kau belum juga memiliki pacar. Tidak lama kemudian kau menghubungiku lagi, aku sudah menghapus nomormu dari kontak hp namun tidak bisa menghapusnya dari memori otakku. Awalnya aku ragu untuk berhubungan lagi denganmu, sampai akhirnya kau bilang ada didepan rumahku untuk meminjam kembali dvd drama korea, aku kaget tanpa basa basi, ku menghampirimu. Awalnya ingin sekali aku memaki – makimu, mencurahkan lagi semua kekesalanku padamu namun secara langsung. Tetapi ketikaku menatap matamu semuanya berubah, rasa cintaku lebih besar dari rasa benciku padamu. Perasaanku ternyata tidak berubah walaupun sudah 6 tahun berlalu. Ternyata 6 tahun bukanlah waktu yang tepat untuk melupakanmu.
Aku menerimamu kembali, ingatkah kau? Apakah kau ingat bahwa aku selalu menerimamu dengan tangan terbuka selalu bersama denganmu ketika kau kesepian dan kau kembali pergi setelah kau menemukan kembali cinta barumu. Itu semua selalu berulang samapi sekarang, sampai 10 tahun sudah aku berhubungan denganmu, sejak tanggal 2 Agustus 2006 kau ucapkan bahwa kau menyukaiku. Aku ingat sekali kau ucapkan itu dikantin sekolah kita. Dan sampai sekarang Mei 2016 kau masih selalu seperti itu padaku. Sampai akhirnya, aku benar – benar menyerah dengan cintaku padamu. Kau selalu membangun harapan – harapan indah yang membuatku memimpikan keindahan bersamamu, namun kembali kau hancurkan dengan perbuatanmu. Aku gagal untuk melupakanmu. Entah sudah berapa puluh kali air mataku selalu jatuh karena mengingat tentangmu, mengingat semua tentang kita dan harapan – harapanku yang tidak pernah bisa terwujud denganmu.
Setiap tahunnya aku selalu berdoa untuk berhenti mencintaimu, berhenti mengingat semua tentangmu, berhenti untuk selalu bersamamu saat kau kesepian dan berhenti untuk bermimpi bersamamu. Aku terlalu bodoh karena tidak bisa mengendalikan harapanku yang hanya sekedar dalam anganku. Aku terlalu bodoh untuk menjadi seorang wanita yang kuat, aku terlalu bodoh karena tidak pernah berani meninggalkanmu sendirian, aku terlalu bodoh karena selalu bersamamu sedangkan kau jarang sekali memperdulikanku. Kejadian ini selalu berulang setiap tahunnya, kau selalu menghancurkan hatiku ketika hatiku sudah kembali utuh. Aku sudah lupa berapa kali aku menghapus nomor hp mu dari kontakku, bahkan setiap tahun kau menginvite ku dari bbmu, dan setiap tahun juga aku selalu menghapus kontakmu dari bbmku. Tahun 205 kemarin paling berat untukku.karena aku sudah tidak tahan dengan segala  perlakuan  dia, aku jujur padanya bahwa aku masih mencintai dia. Sejak usianya 22 tahun, sikap egoisnya sedikit demi sedikit menghilang, sudah tidak ada kata – kata kasar yang keluar dari mulutnya.  Dia kaget karena aku berani mengakui perasaanku, aku lelah karena setiap tahunnya berulang seperti itu. Tidak ada kata maav, hanya ada kata “makasih” yang dia berikan padaku. Jawabannya tidak membuatku sakit hati namun juga tidak membuatku senang. Setelah kejadian itu dia sudah tidak pernah menghubungiku lewat bbm, dia tidak lagi memperhatikanku. Aku hanya bisa melihat status-statusnya di bbm dan memandangi fotonya, sesekali dia memajang foto perempuannya. Sedangkan aku, masih berusaha mengumpulkan kembali cinta – cinta yang hancur dengan mengubahnya dengan cita – cita.
Beberapa teman memujiku karena aku berani berkata jujur tentang perasaanku, namun beberapa teman menyayangkan sikapku karena itu membuat sikap dia berubah padaku. Aku mencoba tidak memikirkan dia, aku menghapus dia dari kontak bbmku dan memblokir semua media sosial yang berteman dengannya. Ketakutanku adalah melihatnya bersedih, dan kesedihanku adalah ketika dia marah kepadaku. Aku selalu meminta maaf lebih dulu kepadanya walaupun aku tahu aku tidak salah. Bukankah ini cinta?? Bukankah cinta seperti ini? Atau ini hanya keegoisanku saja, yang belum bisa melepaskan dia seutuhnya? Namun itu semua ternyata belum berakhir, awal februari dia kembali menghubungiku dan membutuhkan bantuanku. Sungguh aku tidak bisa menolak semua permintaan dia, aku kembali membantunya. Kami kembali berhubungan, aku sudah tahu hubungan ini tidak akan bertahan lama. Maka aku lebih berhati – hati, aku tidak pernah menghubungi dia terlebih dahulu, aku tidak menjawab pesan dia dengan cepat. Setelah kita bertemu dan aku membantunya, dia sedikit berubah dan tidak intens menghubungiku. Aku mencoba cuek dan hanya menjawab pesan seperlunya saja. Mungkin aku mulai menyerah dan aku tidak ingin sakit untuk kesekian puluh kalinya dengan alasan yang sama. Aku tidak hanya berdiam diri saja untuk melupakan dia, beberapa kali ku coba menjalani hubungan dengan laki – laki lain, tapi terasa sulit. Beberapa kali aku menolak laki – laki yang sangat baik.
Dia berubah namun tetap saja butuh aku ketika dia kesepian, kami berjumpa kembali dipernikahan teman dia hanya menarik kerudungku, sempat hatiku goyah namun dia menunjukkan kalau dia sudah benar – benar tidak cinta, duduknya jauh sekali denganku. Tidak memperdulikanku dan tidak menghampiriku kembali. Aku berusaha untuk tidak peduli namun jujur aku tetap terfikir tentangnya. Sampai akhirnya semuanya terjawa ternyata dia sudah mengkhitbah seorang gadis. Aku tidak tau tepatnya kapan. Mungkin satu minggu yang lalu atau dua minggu yang lalu, entahlah karena aku tidak perlu jawabannya. Hanya saja sebelum itu terjadi dia masih bertanya “kapan aku ingin menikah, kapan aku siap untuk dilamar?” bukankah itu pertanyaan yang konyol? Dia bercerita tentang sakitnya sampai aku merelakan tidur lebih malam hanya untuk mendengarkan ceritanya. Namun hari ini aku tidak sengaja kembali bertemu dengannya. Pernahkah kalian mendengar kalimat “lebih baik  kejebak hujan dibanding terjebak nostalgia atau kalimat “ kejebak hujan enggak apa – apa, asal jangan sama mantan”. Dan aku mengalami itu semua, aku selalu terjebak nostalgia, dan hari ini aku terjebak hujan bersama dengan dia, mantanku yang masih aku cinta sampai hari ini.
Dan tidak lama kemudian dia menulis status di bbmnya “Mira Sofaria <3” . aku sedih, tapi tidak bisa menangis, air mataku mungkin saja sudah lelah menangisi orang yang sama. Hatiku selalu patah oleh orang yang sama juga, mungkin saja beberapa hari kedepan aku akan menghapus kembali kontaknya dari handphone ku. Aku hanya memohon untukmu yang selalu membangun harapan – harapan indah, kumohon pergilah. Pergilah sejauh mungkin dari hidupku, sungguh aku sudah lelah hidup dengan bayang – bayangmu. Ku mohon pergilah dan menghilanglah bersama dengan kebahagiaanmu, dan bawalah sedihku ini bersamamu juga. Berbahagialah dengan calon istrimu, ini sudah benar – benar berakhir.
 Dan aku harap kau bahagia selamanya.

Serang, 18 Mei 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TRIP LABUAN BAJO di MASA PANDEMI

 Hallo semuanya, semoga yang membaca blog aku selalu sehat, happy dan juga orang - orang yang sabar. sudah lama sekali, aku engga nulis di b...